Artikel Terhangat GIBS

Merangkai kata menyusun makna

Infastruktur dan Kultur Digital

Infastruktur dan Kultur Digital

Keseharian kita hampir tak bisa lepas dari gadget digital, terutama smartphone. Hampir enam jam dalam sehari dicurahkan untuk melihat berita, bermedia sosial, berselancar, berbelanja, mencari hiburan, bermain game, atau bahkan mencari literatur melalui media digital. Pekerjaan kita dipermudah oleh keberadaan jaringan internet yang tersedia hampir di mana pun.

Kehidupan kita akan semakin terokupasi oleh peralatan dan teknologi digital. Salah satunya yang akan menjadi bagian kehidupan yang tak bisa lepas dari dunia digital adalah bidang perekonomian. Bahkan, interaksi antara keduanya tidak bisa satu arah.

Teknologi digital memang sangat berpengaruh terhadap perkembangan ekonomi, tetapi juga perekonomian sangat berpengaruh terhadap perkembangan teknologi digital. Pengaruh perekonomian terhadap teknologi digital jelas sangat positif. Semakin tinggi pendapatan masyarakat di dalam sebuah negara, permintaan terhadap layanan digital akan semakin membaik. Bagaimana pengaruh sebaliknya? Nah, itulah yang menjadi pertanyaan mendasar kita.

Pengaruh teknologi informasi dan komunikasi terhadap perekonomian tidak selamanya positif dan sangat bergantung pada kemampuan atau cara kita memanfaatkannya untuk tujuan yang produktif atau hanya melulu untuk menikmati kemudahan yang disediakan oleh teknologi tersebut.

Sebagai contoh adalah di dunia e-commerce. Teknologi ini sangat memungkinkan bagi produsen di pelosok Indonesia mana pun untuk menjual produknya ke seantero negeri, bahkan ke pasar global. Pengusaha besar maupun kecil memiliki akses yang sama untuk memasarkan produknya. Pasar menjadi semakin terbuka bagi siapa pun.

Jelas ini merupakan kesempatan untuk menciptakan sistem ekonomi berbasis kerakyatan. Modal tidak lagi menjadi hambatan untuk mendapatkan akses pasar. Asal produknya dapat diterima oleh pasar, Anda dapat menawarkan dalam jumlah sesuai dengan kemampuan produksi. Anda tidak lagi harus memproduksi barang atau jasa dalam skala besar.

Dengan konsep peer to peer market, penjualan secara eceran bisa langsung dilakukan tanpa harus melalui pedagang besar. Setiap produsen berhadapan langsung dengan konsumennya. Itulah sisi positifnya.

Sisi negatifnya bisa terjadi lebih cepat dari yang kita sadari. Sebuah riset menyatakan bahwa 70 persen penjualan daring didominasi produk impor. Dengan kata lain, e-commerce justru memicu belanja impor.

Sekarang, siapa pun bisa berbelanja barang dari seluruh dunia tanpa hambatan. Karena budaya belanja kita masih import minded, maka tak ayal pasar domestik menjadi sasaran empuk bagi produk luar negeri. Dengan kata lain, teknologi digital telah membuat pasar domestik semakin terbuka bagi pihak asing. Sementara itu, akses ke pasar global yang semakin terbuka tidak kunjung termanfaatkan secara baik oleh pelaku domestik.

Saat ini, kita sedang sibuk-sibuknya membangun infrastruktur digital, terutama melalui proyek Palapa Ring. Tentu saja inisiatif seperti ini patut kita apresiasi dengan baik. Seluruh rakyat Indonesia yang tinggal di pelosok mana pun kelak akan memiliki kesetaraan terhadap akses digital. Ini sebuah arah yang positif dari sisi pemerataan kesempatan.

Namun, agar dampak positifnya menjadi lebih menendang, pembangunan infrastruktur fisik saja tidak cukup. Akses digital harus disertai dengan kultur untuk memanfaatkannya secara positif dan produktif. Kultur inilah yang sering kita lupakan.

Seperti halnya di negara lain, terkadang penyesuaian kultur tidak selalu berlangsung mulus. Di Amerika Serikat saja, perkembangan teknologi digital banyak menciptakan efek kultural yang negatif. Salah satu contohnya adalah penyebaran berita fitnah melalui media sosial dalam kampanye pilpres di negara tersebut.

Akan tetapi, masalah kultur positif tidaklah mesti berkaitan dengan kultur nasional secara keseluruhan. Perubahan yang nyata dapat berlangsung secara lokal dan bottom up. Contohnya ada di sebuah desa di Jawa Tengah yang sekarang telah menjadi kampung digital yang go global dengan memproduksi desain logo.

Tidak ada rekayasa kultural yang canggih di desa tersebut. Semuanya berawal dari terbukanya kesempatan pasar melalui akses digital. Masyarakat yang tadinya hanya melulu bertani, kini menjadi pemain global di pasar desain logo.

Poin pentingnya adalah bagaimana menyadarkan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi digital secara positif dan produktif sesuai dengan potensi dan kesempatan yang tersedia. Itulah kultur yang harus kita bangun sejalan dengan pembangunan infrastruktur fisik digital.