Artikel Terhangat GIBS

Merangkai kata menyusun makna

Kamu Muslim, Kamu Duta Islam

Kamu Muslim, Kamu Duta Islam

Saat mengunjungi Adam, ananda yang saat ini sedang mendalami dunia sepak bola di Eropa, ia memperkenalkan teman akrabnya, Walid. Seorang remaja Muslim, imigran asal Somalia. Di negeri asalnya, setiap hari bisa dikatakan ia berhadapan dengan maut. Ancaman penyakit yang ditangani tanpa kelengkapan medis, juga peperangan.

Pernah suatu hari di masa kecil, ketika sedang pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan rumah, begitu pulang, ia terjebak dalam kontak senjata antara kedua pihak yang berselisih. Berkali-kali peluru berdesing di atas kepala. Walid harus menunduk dan merayap hati-hati untuk pulang ke rumah.

Bersekolah di Negeri Kincir Angin, ia dikenal anak pemberani, salah satu jago berkelahi selain tidak mengenal rasa takut. “Saya tidak takut mati, karena seharusnya saya sudah mati sejak dulu,” ujarnya. Dibanding negeri asalnya, Belanda tentu saja sangat aman dan nyaman.

Sejak diterima sebagai imigran di Belanda bersama ibu dan kakak-kakaknya, Khalid tumbuh menjadi anak yang besar di lingkungan Eropa. Berbahasa Belanda layaknya seperti seorang native speaker, sekolah di tempat anak-anak lokal menuntut ilmu.

Ia mempunyai seorang ibu asuh asal Belanda. Sosok yang perhatian, mengayomi, dan tak ragu mendidiknya dengan kasih sayang. Sang ibu mengangkat Walid dan kakak lelakinya sebagai anak bimbingan.

Akan tetapi, ada sesuatu yang kurang bagi Walid. Sang ibu asuh bukan seorang Muslim sehingga setiap kali terjadi diskusi dan sang Ibu berpendapat, terutama terkait keislaman, selalu menyimpang, jika dilihat dari sudut pandangnya. Ketika kecil Walid tidak terlalu menanggapi, tetapi beranjak dewasa ia mulai sering berdebat dengan ibu asuh.

Hingga sang ibu mulai menyerang pribadi sang anak, “Jangan bicara Islam, buat apa ibadah terus kalau perilaku kamu juga seperti itu,” katanya menegaskan mengacu pada kebiasaan Walid berkelahi dan kurang serius belajar.

Tapi, Walid tak pernah berhenti berdebat sampai dirinya puas setelah memenangkan perdebatan. Dan, itu sering kali terjadi. “Yang penting saya tahu saya benar," ucapnya.

Hingga akhirnya saya bertemu dan kami pun berdiskusi. “Apakah perdebatan akhirnya membuat ibumu tertarik pada Islam?” tanya saya.

“Tidak!” jawab remaja itu, “Malah ibu menjawab, saya tidak akan masuk Islam,” lanjutnya.

“Lalu?” tanya saya penasaran.

“Saya bilang, tidak masalah. Toh, Allah juga tidak memberi hidayah pada yang tidak dipilih-Nya.”

Mendengar jawaban itu saya mulai memberi beberapa masukan, “Walid, tahukah kamu bahwa seorang Muslim itu adalah seorang salesman atau promotor?” ungkap saya.

Mendengar itu Walid tidak bisa menyembunyikan keheranannya. Apa maksudnya?

“Anggap saja kamu jualan apel. Maka, kamu menjadi sukses ketika kamu berhasil menjual atau mempromosikan apel. Kamu tidak boleh bangga hanya karena kamu berhasil mengatakan sesuatu yang benar, soal apel itu sehat, misalnya. Tapi, kamu harus membuat calon pembeli yakin--seyakin dirimu--saat menjelaskan, hingga mau membelinya. Namun, jika yang berjualan juga sakit-sakitan, tentu saja tidak akan berhasil meyakinkan ‘calon pembelinya’ bukan?”

Walid terdiam sesaat, tidak lama kepalanya mengangguk. Kami pun melanjutkan percakapan. Saya kira akhirnya Walid mengerti bukan menang dalam perdebatan yang penting, melainkan bagaimana membuat sang ibu memercayai Islam adalah pilihan yang tepat. Dan, tentunya ia harus menunjukkan perilaku baik dan bijak untuk bisa mempromosikan Islam dan merebut hati objek dakwah.

Walid hanyalah salah satu sosok yang mewakili kebanyakan kita, yang sering kali lupa bahwa setiap Muslim merupakan sales, promotor, atau duta yang bertanggung jawab memberi citra atau citra yang baik, bagi Islam.