Ketika kita menengok dinamika remaja masa kini— remaja yang masuk kategori generasi Z atau generasi milenial, yang lahir di atas tahun 2000—ada dinamika yang berkembang seiring perubahan sosial yang terus terjadi. Beberapa diantaranya membentuk pola prilaku kontra produktif seperti individualisme, kurangnya rasa empati, kecenderungan hidup bermewah-mewah bahkan sikap apatis terhadap lingkungan.

Fenomena ini terjadi hampir di berbagai tempat sebagai salah satu dampak dari pesatnya arus informasi dan kemajuan zaman. Memang tidak dapat dielakkan. Namun dunia pendidikan punya tugas untuk merespon apa yang sedang berkembang dengan merancang program-program yang mampu memfasilitasi peserta didik untuk mengembangkan nilai-nilai yang mulai terkikis, sekaligus membekali mereka keterampilan Kompetensi Abad 21 untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Dua dari sekian aspek di dalam Kompetensi Abad 21 adalah Social Awareness dan Active Contributor. Keduanya merujuk pada aspek kepekaan social seseorang. Tuntutan kompetensi di masa mendatangi nikontras dengan problematika yang dihadapi remaja sebagaimana disebutkan di atas. Untuk itulah Global Islamic Boarding School memiliki sebuah divisi khusus di dalam Departemen Kesiswaan yang bertujuan untuk melatih siswa berpikir dan bertindak atas persoalan-persoalan yang ada di lingkungan sekitarnya dalam kapasitas sebagai pelajar sekolah tingkat menengah. Divisi ini dinamai Divisi Social Project.

Secara umum program DivisiSocial Project ada 3 jenis: Student Camp, Community Based Project, dan Social Literacy. Masing-masing program ditangani oleh sekelompok siswa dan guru pembimbing. Namun di dalam pelaksanaannya setiap program melibatkan seluruh siswa siswi GIBS.

Student Camp adalah program dimana siswa diminta untuk tinggal dan menjadi bagian dari sebuah keluarga selama 3 hari di akhir pekan. Siswa terlibat dalam agenda harian di keluarga tersebut. Bagi siswa yang berada di keluarga petani, maka dia ikut bertani. Bagi yang berada di keluarga pedagang, maka juga turut berdagang dan seterusnya. Di sini siswa diajak untuk mengalami (experiential learning) bagaimana menjadi bagian dari sebuah keluarga dengan tingkat ekonomi tertentu yang berbeda dengan keadaan mereka. Sehingga aspek kepekaan social mereka digugah dan pada saat bersamaan mereka diajak untuk berkontribusi pada jalannya rumah tangga sehari-hari.

Sekelompok siswa juga diajak untuk mengunjungi sebuah sekolah dan mengidentifikasi kebutuhan perbaikan atau peningkatan fasilitas yang dapat diadakan sesuai kapasitas siswa. Misalnya mengadakan pengumpulan buku bacaan bekas untuk menambah fasilitas perpustakaan, mengadakan cat dan kuas untuk bersama-sama dengan warga sekolah mengecat ruang-ruang kelas, atau memperbaiki bangku-bangku yang rusak. Kegiatan-kegiatan ini adalah sarana latihan siswa dalam melatih sikap berkontribusi pada persoalan-persoalan lingkungan. Seringkali pula dalam proses membiayai program, siswa kekurangan dana. Akhirnya mereka mengeluarkan dana pribadi secara sukarela. Program ini disebut Community Based Project.

Siswa juga diajak untuk mengajar baca-tulis pada anak-anak usia SD di sekolah-sekolah, mengadakan lomba story telling atau baca puisi di Taman Baca milik perseorangan atau LSM. Kegiatan ini yang disebut Social Literacy. Program ini secara khusus melatih siswa untuk secara aktif berkontribusi pada peningkatan level literasi pelajar Sekolah Dasar. Dengan demikian diharapkan muncul pemahaman di benak para siswa bahwa sebuah perubahan hanya terjadi jikalau setiap komponen terlibat dalam proses perubahan tersebut.

Ketiga program di atas bersinergi dalam membangun kesadaran remaja generasi milenial. Bahwa rasa empati kepada sesame perlu diasah melalui semangat kepedulian. Sehingga pada akhirnya, siswa-siswi GIBS tumbuh sebagai insan yang mampu mengidentifikasi persoalan-persoalan di lingkungan sekitar, untuk kemudian mengambil peran sesuai kapasitasnya menuju perubahan ke arah yang lebih baik. Di tataran yang lebih luas, ketika mereka berada di tengah-tengah masyarakat dunia, mereka akan mampu menggunakan kepekaan social ini untuk turut membantu menyelesaikan persoalan masyarakat lain di luar komunitasnya.I2