Pergi ke luar negeri? Kenapa tidak. Banyak dari kita berkeinginan pergi ke luar negeri, kan? Tujuannya tidak lain untuk sekedar travelling ataupun menikmati hal baru. Bahkan demi menuntut ilmu. Tentu semua itu tidak mudah. Kita perlu mengurus macam hal. Penginapan, surat-menyurat, kondisi finansial dan lainnya.

Beda halnya dengan satu sekolah yang satu ini. Bukan keajaiban lagi bagi siswa SMA Global Islamic Boarding School (GIBS) tiap tahunnya untuk pergi ke luar negeri. Sekolah yang terletak di daerah Sungai Lumbah  itu telah mengirimkan 4 angkatan sejak tahun 2013 sampai 2017 berturut-turut untuk belajar di luar negeri. Mereka menyebutnya sebagai Hijrah Program. Pihak sekolah mengadakan program ini khusus untuk siswa kelas XI dipertengahan semesternya.

Berkaitan mengenai Hijrah, Islam memandang hijrah sebagai salah satu peristiwa penting dalam kemajuan Islam. Rasulullah beserta para sahabatnya sering berhijrah ke tempat lain, seperti kota Madinah Al-Munawarah. Tujuannya untuk membawakan perubahan dalam peradaban Islam serta mencari Ridho Allah SWT. Dan sama dengan halnya Hijrah yang diadakan oleh SMA GIBS.

Sesuai salah satu visi GIBS yaitu “Menjadi muslim yang tangguh yang dapat berkontribusi bagi ilmu pengetahuan, kemanusiaan dan pembudayaan kehidupan”. Tidak heran jika program ini mewajibkan siswanya berperan dalam observasi dan memperlajari kebudayaan ataupun kemajuan teknologi di sana sehingga dapat mengimplementasikannya dalam kehidupan.

Tercatat pada 2017, sebanyak 101 siswa terlibat Hijrah Program ditambah 8 pembimbing dari guru dan assatidz. Pada 28 Maret 2017, sekitar pukul tiga dini hari, siswa berangkat dari sekolah menuju bandara Syamsudin Noor, Banjar Baru. Sebelum mereka go flight dan berpisah menuju dua jalur destinasi yang berbeda yaitu Turki-Umroh dan Malaysia-Singapora, mereka sengaja disatukan di Jakarta. Hal ini berbeda dari tahun sebelumnya. Mereka diberi kesempatan untuk bersama satu angkatannya dalam satu daerah yang sama. Sehingga menjadi point tambah bagi siswa angkatan 4 “Fortress Bifa” untuk menjalin solidaritas.

“Rasanya menyenangkan. Kita menjadi terasa lebih dekat apalagi saat di Jakarta”, tanggap Raihanah, salah satu peserta Hijrah Program termuda.

Dalam program ini, mereka diberikan jadwal dan peraturan khusus. Semisal diadakannya Reflective Time dan Diary Journal. Bahkan ada juga penyitaan handphone sementara waktu jika telat atau tidak ikut serta dalam kegiatan.

Masing-masing peserta Hijrah baik Turki-Umroh atau Malay-Singapore, mereka memiliki pengalaman unik disana dengan ragam rintangan. Terutama adaptasi pada lingkungan dan kebudayaan di sana.

Bagi peserta Turki-Umroh, mereka dihadapkan dengan cuaca yang sangat dingin di Istanbul.

“Dingin sekali. Rasanya mau beku”, keluh mereka saat mengantri panjang di Galata Tower, Istanbul.

Lain hal dengan peserta Malay-Singapore, kondisi cuaca bukan menjadi masalah. Sama saja dengan Indonesia, iklim tropis. Mereka mengaku jika bagian yang menyenangkan dan juga ‘melelahkan’ adalah saat berada di Kolej Permata Pintar, Malaysia. Mereka mempelajari banyak hal, terutama bidang Astronomi.

“Disana kita tuh dapat belajar dengan cara belajar di sana, sangat menyenangkan! Cikgu nya juga ramah dan baik”, komentar Fafi Rahmatillah di via chat, salah satu peserta Hijrah Malay-Singapore.

Mereka banyak mempelajari hal baru dan menemukan fakta unik mengenai kota atau negara yang mereka kunjungi. Kebudayaan, teknologi, cara belajar, tata krama bahkan makanan khas di sana. Mengenai peran masyarakatnya dalam perkembangan Islam dan teknologi di sana.

Akan tetapi, program tetaplah ciptaan manusia yang tidak sempurna. Di dalamnya masih terdapat kekurangan. Dengan membandingkan pada pengalaman Hijrah Program tahun sebelumnya, ada beberapa orang tua yang beranggapan bahwa program ini hanya sekedar ajang refreshing dan travelling saja. Syukurlah, semua hal tersebut telah diluruskan oleh Mr. Zulfikar, Direktur SMP-SMA GIBS sewaktu pertemuan orang tua.

“Ibu, Bapak. Anak-anak memang biasanya berfoto selfie apalagi itu luar negeri, ya kan? Tapi, Hijrah ini bukan semata-mata hanya travelling atau refreshing bagi anak-anak. Dalam program ini, kami akan berusaha membimbing mereka untuk terus belajar disana ”, jelas beliau. (17/3/17)

Setelah Hijrah Program ini resmi berakhir pada 16 April 2017, solidaritas dari angkatan Fortress Bifa semakin erat hingga sekarang. Menurut mereka, kebersamaan itu merupakan hal utama dalam kehidupan.

“Saya turut bangga pada peserta Hijrah Program tahun ini”, tutur Mr. Irul dengan muka berseri-seri dihadapan para murid saat itu.     (Nura)