Pengajaran tentang Pancasila mungkin jadi benda membosankan untuk dipelajari saat kita bersekolah dulu. Dikemas dalam berbagai wujud, PMP, PSPB, PPKn contohnya. Ilmu-ilmu tentang kewarganegaraan dihafalkan hanya untuk nilai ujian, bukan dengan alasan nasionalisme.

Yang menjadi topik menarik beberapa waktu terakhir adalah banyaknya orang tua yang menyatakan pentingnya pendidikan dan penjabaran dari pancasila untuk dijelaskan kembali kepada anak-anak mereka. Untuk membiasakan pengalaman yang relevan, bukan sekedar menjadi pendidikan membosankan yang diulang-ulang.

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa

Perbedaan mendasar ada pada pembelajaran agama untuk anak zaman dulu dan sekarang. Jika dulu kita diajarkan untuk menghafalkan agama resmi yang diakui oleh negara, sekarang agama bergeser ke arah yang sedikit lebih luas dan bebas. Sangat banyak varian topik bacaan yang tersedia tentang banyaknya agama dan kepercayaan berbeda, bahkan untuk “nama” yang sama. Peranan sila pertama dengan dunia pendidikan sangat erat kaitannya.  Dalam pendidikan agama akan dibahas lebih dalam lagi mengenai ajaran agama.

  1. Kemanusiaan yang adil dan beradab

Pengalaman adab dan peradaban yang dihadapi anak sekarang jauh lebih banyak.  “Jenis” kemanusiaan yang dihadapi anak sekarang jauh lebih menantang. Sehingga pendidikan memainkan peranan penting sebagai sarana pengembangan kemampuan dan pembentukkan karakter di zaman yang selalu berubah seperti sekarang. Sistem pendidikan nasional harus dapat memberi pendidikan dasar bagi setiap warga negara Republik Indonesia, agar masing-masing mendapatkan sekurang-kurangnya pendidikan dan pengetahuan dasar.

  1. Persatuan Indonesia

Dilafalkan paling lantang saat upacara bendera. Sila ini menjadi favorit bagi banyak siswa baik dulu ataupun sekarang, karena ini adalah sila yang paling mudah dihafalkan dan disebutkan ketika ditanyakan oleh guru. Sila yang menjadi pemersatu keempat sila lainnya, karena seluruh sila merupakan kesatuan yang bersifat sistematis. Sila Persatuan Indonesia didasari dan dijiwai oleh sila Kesatuan Yang Maha Esa dan Kemanusian Yang Adil dan Beradab serta mendasari dan dijiwai sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Persatuan dalam sila ketiga ini meliputi makna persatuan dan kesatuan dalam arti idiologis, ekonomi, politik, sosial budaya dan keamanan.

  1. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan

Kita semua adalah rakyat, sebagian menjadi pemimpin, sebagian lainnya menjadi yang dipimpin. Kita semua perlu kebijaksanaan dan terlibat dalam musyawarah. Dan dalam kehidupan bernegara, semua kebijakasanaan pemerintah harus berdasarkan kebutuhan rakyat. Semua kebijaksanaan yang pemerintah buat harus berdasarkan kesepakatan rakyat (yang diwakili oleh wakil rakyat di parlemen). Wajib belajar 9 tahun contohnya, program hasil kebijakan pemerintah yang sangat gencar disuarakan. Karena seperti kita ketahui bersama Pendidikan merupakan satu aspek penting untuk membangun bangsa. Hampir semua bangsa menempatkan pembangunan pendidikan sebagai prioritas utama dalam Program Pembangunan Nasional.

  1. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Pendidikan tentang apa itu keadilan sudah diajarkan pada kita secara natural sejak kita masih menjadi anak-anak, tentang mana yang lebih diperhatikan ibu ketika ada salah satu anak yang sedang sakit, murid membayar guru yang memberikan les privat dengan uang, atau saat kita mengikuti antrian untuk membeli tiket nonton di bioskop. Seiring perkembangan zaman, perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan semakin tidak dapat dikendalikan juga. Pendidikan menjadi hal terpenting yang harus diperhatikan oleh setiap orang tua, agar anak-anak mereka menjadi anak-anak yang mampu bersaing dengan lingkungan yang ada saat ini. Tapi terkadang masalah ekonomi menjadi hambatan bagi para orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Dalam hal ini, keadilan dari pemerintah sangat diperlukan.

Pancasila tidak hidup dengan sendirinya, hebatnya pancasila dapat diciptakan dan dipatahkan dalam sebuah ruang yang sama. Dalam berbagai aspek yang tercipta. Dalam percakapan, dalam perdebatan yang ada.